After Marriage: Percaya dan terus berusaha..


This is stories not everyone could tell about it easily, because they think that this is taboo to be published especially for the unknown people. but not for me and my husband, my husband told me to share our story on blog, even though theres no something special on it.

For anyone who curious about our story after marriage you can read it or not.. everyone had their stories so ours too, who does or doesnt have any experience to tell from their life, we are not normal.. why should i say that..? for me its real but for you it is not normal.. life could be run according to you or your husband plan.. and us too..

Kami bahagia hingga sekarang ini, kehidupan berdua susah nya kerasa banget.. meski susah kami trus berusaha untuk membahagiakan diri kami berdua.. perasaan waktu married beberapa bulan lalu itu…. seperti berada didalam mimpi.. berlalu begitu saja.. yang tersisa adalah kebahagiaan tiada tara, tapi kebanyakan diantara couple lain diluar sana, justru merasa menikah itu adalah mimpi buruk.. kenapa? karena mereka tidak merasa bahagia akan pernikahan mereka.. selalu merasa susah akan finansial, atau masih merasa belum memiliki suami atau istri seutuhnya, atau justru merasa tidak bebas seperti dulu dikala masih pacaran atau single.. merasa menikah itu beban, menghidupi pasangan, membayar tagihan, mempunyai kewajiban baru, family is number one.. justru ada juga sebaliknya, setelah menikah semakin santai, hidup sendiri2 seperti layaknya bukan suami istri.. jadi apa guna nya menikah?

What marriage so special for us? kami menunggu 4 tahun lamanya untuk mempersiapkan lahir dan batin agar sah secara agama, negara dan juga masyarakat, menunggu agar diakui sebagai suami istri.. kalo mau kemarin2 kami ga harus menunggu bertahun2 pacaran agar bisa menjadi suami istri.. butuh waktu untuk siap lahir batin, dan juga membulatkan tekad, dan yakin kalo dia adalah suami terbaik untukku.. karena pernikahan bagiku bukan sekedar sebagai alat dan syarat, jadi harus dipikirkan serius sekali, life is unpredictable, you can plan it but you dont know what will happen on the future, you decide what path you take for your life.. hidup itu ga bisa di prediksi, bisa direncakan tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan, kita bisa memutuskan jalan mana yang diambil.. kami berdua selalu berkomitment ingin hidup bahagia bersama, susah bersama, bahkan mati pun kalo bisa sama-sama.. dia suamiku, susah nya dia juga susahku, begitu juga aku..

Cerita apa yang harus disharing kali ini.. Pertama setelah menikah? perasaan jadi pengantin baru itu, selalu berbunga-bunga namanya juga pengantin baru, masih wangi ya ga? this is what i supposed to do couples years ago, inilah yang harusnya aku lakukan bertahun-tahun lalu. Acara penikahan dan Resepsi, siapa yang tidak mengingkan pernikahan nya itu mewah, megah, meriah didatangi banyak sanak saudara, but we cannot afford it. kami bukan keluarga yang kaya, kami hidup apa adanya.. meskipun punya keinginan seperti itu tetap tidak bisa dipaksakan, dibuang jauh-jauh, terutama karena perihal malu ato masalah gengsi dengan keluarga besar, rekan kerja atau teman sejawat.. mengupayakan segala cara agar pernikahan tersebut terlihat mewah, duh langsung kepikiran butuh berapa duid buat menge-sahkan hubungan kami berdua.. 50jt? 100jt? 200jt? musnahlah sudah impian untuk hidup tenang dan bahagia..

Merasa malu cuma sebentar, tapi setelah itu, hidup ga berat-berat amat. yang merasa enakkan nantinya kami berdua.. karena aku ga mau nantinya setelah menikah, kami berdua telilit hutang besar akibat acara pernikahan dimasalalu, yang rasanya baru sebentar diadakan, tapi hutangnya butuh bertahun2 dirasakan.. kami berdua sepakat, untuk menikah apa adanya, diusahakan tanpa mengemis atau meminta bantuan dari orang tua atau keluarga, meskipun orang tua pasti membantu. karena yang aku pikirkan saat itu adalah, usaha gimana caranya secepat mungkin kami berdua memiliki rumah sendiri, menikmati quality time bersama-sama, merencanakan late honeymoon berdua di negara asing.. itulah impian berdua setelah menikah..

Setelah acara pernikahan, aku dan suami baru merasakan bahagianya hidup setelah berpacaran, meskipun masih ada sedikit tanggungan/hutang yang harus dilunasi akibat biaya tak terduga pernikahan dua pulau kemarin, tapi itu tidak begitu memberatkan, paling butuh satu tahun saja untuk melunasi, maklum suami masih honorer di kantornya, dan aku membantu seadanya, karena aku ini self-employed dirumah…

Setelah di sahkan nya hubungan aku dan dia, apapun yang dikerjakan berdua sekarang dihalalkan, tak lagi malu ato ragu salah, ga ada lagi yang namanya malu berpelukan atau ciuman.. didepan umum juga berani loh.. hayooo, coba kenapa harus malu.. aku dan suami selalu terbuka dalam hal apasaja, kadang aku suka bersikap manja kalo suami pulang kerja, suamiku juga suka bercanda yah khas nya dialah.. aku sayang dan cinta dia, juga dia pun sebaliknya, menyayangi dan mecintai diriku, ga ada salahnya menunjukan kasih sayang kepada orang-orang dluar sana. dari pada harus memendam dan menahan rasa.. Rasanya lebih legaa.. sensasi nya gimana gitu hehe..

Begitu pindahnya aku ke solo, aku dan suamiku hidup bersama dirumah mertua, sementara kami berjuang untuk punya rumah sendiri, aku bersama suami tinggal di rumah mertua, dan sudah disediakan kamar sendiri buat kami berdua. hehehe you know what i mean.. untuk punya rumah sendiri tidaklah mudah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, tidak sekedar nabung, milih rumah, beli, lalu ditinggali, segala aspek harus ada, ini akan berguna jika nanti rumah itu sudah kami tinggali tapi itu butuh waktu, masih harus berusaha sedikit lagi untuk mewujudkan impian itu..

after marriage, ada banyak hal yang wajib disharing berdua, kini ga ada lagi kata-kata buatku sendiri atau buatnya sendiri, sekecil apapun itu harusnya diceritakan, dilarang memendam rasa sendiri, jika tidak suka akan sesuatu hal dalam diri suamiku, aku bilang kedia, begitu juga dia.. tidak baik kalo diam-diam sendiri, memendam emosi ato unek-unek tidak baik jika dibiarkan lama bahkan tahunan, ini berpengaruh terhadap keharmonisan berumah tangga, kita berdua sudah jadi suami-istri bukan lagi pacaran seperti dulu.. lebih baik dibicarakan daripada nanti bikin kita bedua lama-lama tidak harmonis lagi..

Contohnya saja, ada teman kerja wanita yang mengajak makan siang bareng suamiku, atau bahkan mengajak nonton bersama diluar jam kerja, suamiku wajib menceritakan hal tersebut kepadaku, meskipun takut tidak diizinkan, atau takut aku marah, suamiku wajib menceritakan smua hal yang terkecil kepadaku, karena dengan begitu istri merasa ada gunanya, istri merasa dipercaya, begitu juga aku, kalo ada hal-hal buruk tentang suamiku, atau cerita miring suamiku dikantor, jangan langsung di telan mentah-mentah, ada baiknya di proses dulu, edible ato tidak untuk dimakan tergantung hasil masakannya kan? kalo menurut logika, aku harusnya lebih percaya omongan suamiku dari pada orang lain, sekalipun suamiku itu tukang bohong atau pembual, karena sudah menjadi resikonya aku mau menikahi tukang bohong atau pembual.. suamiku pun harus percaya kepada kata-kata ku ketimbang orang lain diluar sana, karena istri lebih banyak tau dan paham sifat suami sendiri di banding suami nya orang hahahaha *kidding..

itu kenapa aku lebih memilih ikut suami jauh-jauh dari palembang ke solo, karena aku ingin mencintai dan menyayangi suami ku seutuhnya, tanpa ada rasa cemburu, rasa curiga, was-was bahkan mengidap penyakit galau akut.. berhubungan itu yang pasti-pasti aja, kalo ga pasti kebanyakan berujung pisah ranjang.. kalo harus berjauhan satu diantaranya harus mengalah, dan kebanyakan harusnya istri yang mengalah, aku ingin bersama suamiku karena aku ga kuat menahan kangen ku padanya.. meskipun aku percaya sama suamiku, tetap saja kurang berasa penikahan ini kalo tidak hidup berdua dalam satu atap/rumah.

mengingat cerita waktu masih pacaran dulu.. meski aku pun punya pekerjaan saat itu, sbelum aku memutuskan untuk tinggal di solo.. meninggalkan keluargaku yang harus nya lebih melindungiku ketimbang dia.. aku mengambil resiko itu karena aku yang ingin hidup, aku yang ingin merasakan pengalaman hidup, aku yang memutuskan dan aku jugalah yang merasakan resiko/akibatnya.. jadi apapun itu aku harus siap.. sekarang dia sudah menjadi suamiku, aku wajib ikutin dia, kemana pun dia pergi harus bersama, meski suatu saat dia ditugaskan keluar negeri ke afrika sekalipun, mau ga mau aku harus ikut, ato dia didinaskan ke papua, aku wajib ikut,, suamiku pun ketika aku memutuskan itu, dia juga berusaha untuk tidak mengecewakannya, berusaha bertanggung jawab, udah kewajiban sang suamilah mensupport lahir dan batin, begitu juga sebaliknya..

angkin bahagia nya menikah dengannya, sesusah apapun hidup ga kerasa, aku mengomel-ngomel tentang sesuatu hal, ada suami yang menyemangati.. aku sedih ato marah-marah, ada suami yang bikin tenang diri.. haha gimana ga bahagia, dikala suami pulang kerja, nyium baru keringat hasil kerja kerasnya hari ini, dueh antara happy dan ngga hihi..

2 thoughts on “After Marriage: Percaya dan terus berusaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s